Kota Bekasi, wartapilar.com – Perlindungan lapisan ozon tidak lagi hanya menjadi isu lingkungan, tetapi mulai diarahkan menjadi bagian dari transformasi dunia kerja. Pesan tersebut mengemuka dalam Puncak Perayaan Hari Ozon Sedunia 2026 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) bersama Kementerian Ketenagakerjaan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi, Rabu (16/9/2026).

Kegiatan yang mengusung tema global “Global Action for Cooler Planet” itu dihadiri Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Mohammad Jumhur Hidayat dan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk memperkuat kolaborasi perlindungan ozon dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja, khususnya di sektor refrigerasi dan pendingin udara (RAC).

Jumhur mengatakan, kondisi lapisan ozon menunjukkan perkembangan positif setelah negara-negara di dunia menjalankan kesepakatan internasional untuk mengurangi penggunaan bahan perusak ozon (BPO).

Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan berskala global dapat ditangani melalui kerja sama dan perubahan teknologi.

“Dunia sebenarnya memiliki satu bukti nyata bahwa kerja sama internasional mampu membalikkan ambang kehancuran ekologis,” ujar Jumhur dalam kegiatan tersebut.

Ia menyebut pemantauan ozon menunjukkan luas maksimum harian lubang ozon Antartika yang pernah mencapai sekitar 29,9 juta kilometer persegi pada 2000 turun menjadi sekitar 22,4 juta kilometer persegi pada 2024.

Namun, upaya pemulihan tersebut tetap membutuhkan konsistensi, termasuk melalui pengurangan penggunaan bahan pendingin yang berdampak terhadap lingkungan.

Teknisi AC Jadi Bagian Penting Transisi Hijau

Di tingkat nasional, tantangan perlindungan ozon kini bersinggungan langsung dengan kebutuhan tenaga kerja. Penggunaan teknologi pendingin terus berkembang sehingga teknisi AC dan sistem refrigerasi dituntut memiliki kemampuan menangani refrigeran dan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan.

Karena itu, pemerintah mendorong peningkatan kapasitas tenaga teknis melalui pelatihan, pembaruan kompetensi serta dukungan peralatan.

KLH/BPLH dalam puncak peringatan tersebut menyerahkan secara simbolis hibah peralatan pelatihan Refrigeration and Air Conditioning (RAC) kepada Kementerian Ketenagakerjaan. Program ini melibatkan 14 BBPVP/BPVP di bawah Kementerian Ketenagakerjaan.

Jumhur menegaskan, transformasi teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pekerja. Jangan sampai perubahan menuju teknologi yang lebih ramah lingkungan justru membuat tenaga kerja tertinggal karena tidak memiliki kompetensi yang sesuai.

“Kerja sama ini memastikan para pekerja mendapatkan pelatihan ulang, fasilitas dan peralatan yang memadai demi terciptanya lingkungan kerja yang bersih dan berkelanjutan,” katanya.

Menaker: Transisi Hijau Buka Peluang Kerja Baru

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyambut kolaborasi tersebut sebagai langkah memperkuat kesiapan sumber daya manusia menghadapi perubahan teknologi dan tuntutan ekonomi hijau.

Menurutnya, tenaga teknis bidang pendingin menjadi salah satu kelompok pekerja yang perlu dipersiapkan menghadapi perubahan standar teknologi dan lingkungan.

Pemutakhiran standar kompetensi nasional, kurikulum pelatihan hingga penyediaan peralatan menjadi bagian dari upaya tersebut.

Yassierli menilai transisi menuju ekonomi hijau tidak semestinya dipandang semata sebagai beban bagi dunia kerja. Perubahan tersebut juga dapat menciptakan kebutuhan terhadap jenis pekerjaan dan keahlian baru.

“Pekerjaan hijau” didorong menjadi bagian dari ekosistem ketenagakerjaan yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhitungkan dampak terhadap lingkungan.

Ke depan, pekerja dituntut tidak sekadar mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga memahami efisiensi energi, pengelolaan refrigeran, serta praktik kerja yang lebih ramah lingkungan.

Dari Bekasi untuk Kompetensi Pekerja Hijau

Puncak Hari Ozon Sedunia di BBPVP Bekasi pun menjadi simbol pertemuan dua agenda besar: perlindungan lingkungan dan peningkatan kualitas tenaga kerja.

KLH/BPLH menempatkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai salah satu bagian penting dari perlindungan ozon dan sistem pendinginan berkelanjutan.

Bagi Indonesia, tantangannya bukan sekadar mengurangi bahan perusak ozon, tetapi memastikan perubahan teknologi tersebut dapat diikuti oleh pekerja di lapangan.

Teknisi AC, tenaga refrigerasi, lembaga pelatihan, industri hingga pemerintah dituntut bergerak dalam arah yang sama.

Dengan demikian, Hari Ozon Sedunia tidak berhenti pada seremoni tahunan. Momentum ini diarahkan menjadi pengingat bahwa menjaga lapisan ozon membutuhkan perubahan nyata, mulai dari kebijakan, teknologi, kompetensi tenaga kerja hingga perilaku masyarakat.

Sebab, semakin ramah teknologi yang digunakan, semakin besar pula kebutuhan terhadap pekerja yang mampu mengoperasikan dan merawatnya secara benar.

Dari Bekasi, pesan itu kembali ditegaskan: perlindungan bumi dan penciptaan lapangan kerja hijau dapat berjalan beriringan. (Red)