Kota Bekasi, wartapilar.com – Kelurahan Jatiasih, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, menjadi salah satu wilayah yang mendapat kunjungan Tim Verifikasi Lapangan Lomba Anugerah Gapura Sri Baduga dan Lomba Kreatif, Inovatif, dan Kolaboratif (KREASI) tingkat Kota Bekasi, Kamis (24/9/2026).
Proses verifikasi lapangan dipimpin langsung Ketua Tim Penggerak PKK Kota Bekasi, Wiwiek Hargono. Tim penilai turun langsung untuk melihat berbagai program inovasi, pemberdayaan masyarakat, serta kolaborasi yang telah berjalan di lingkungan Kelurahan Jatiasih.
Lurah Jatiasih, Dian, menyambut kedatangan tim verifikasi sekaligus memaparkan sejumlah program unggulan yang menjadi representasi kreativitas dan kemandirian masyarakat.
“Selamat datang dan selamat melaksanakan penilaian. Terima kasih kepada tim yang telah meluangkan waktu hadir secara langsung untuk mengamati dan menilai berbagai program inovasi serta hasil pemberdayaan masyarakat yang telah kami laksanakan,” ujar Dian.
Dalam ajang tersebut, Kelurahan Jatiasih dipercaya mewakili Kecamatan Jatiasih pada dua kompetisi sekaligus. Momentum ini tidak hanya dimanfaatkan untuk mengejar prestasi, tetapi juga menjadi ruang untuk menunjukkan berbagai potensi, kreativitas, kepedulian sosial, serta semangat gotong royong masyarakat.
Enam Inovasi Unggulan
Enam inovasi yang ditampilkan Kelurahan Jatiasih lahir dari kebutuhan dan persoalan yang dihadapi masyarakat sehari-hari.
Pertama, Neng Wasit Nengokin Warga Jatiasih, yakni pelayanan jemput bola yang dirancang untuk mempermudah warga mendapatkan akses pelayanan pemerintahan.
Kedua, Poskamling Terpadu RW 04, yang menjadi bagian dari upaya memperkuat keamanan dan ketertiban lingkungan melalui keterlibatan aktif masyarakat.
Ketiga, Kartu Kuning/Iuran Musibah RW 09, sebuah bentuk kepedulian sosial warga untuk membantu meringankan beban keluarga yang mengalami musibah kematian.
Keempat, Budidaya Maggot dan Pengelolaan Lingkungan RW 012. Program ini mengintegrasikan pengelolaan limbah dengan budidaya maggot sehingga memiliki potensi memberikan nilai ekonomi sekaligus membantu mengurangi persoalan sampah organik.
Kelima, Sistem Air Bersih RW 016, yang dikembangkan sebagai upaya memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat secara mandiri.
Keenam, Paguyuban Titipan Seni Budaya RW 010, yang diarahkan untuk menjaga keberadaan seni, budaya, serta kearifan lokal di tengah perkembangan kawasan perkotaan.
Dian menegaskan, berbagai inovasi tersebut tidak lahir dari kerja pemerintah kelurahan semata. Keberadaannya merupakan hasil kolaborasi berbagai unsur masyarakat.
“Pembangunan di Jatiasih tidak berjalan sendirian. Ini hasil kolaborasi antara pemerintah kelurahan, masyarakat, kader, tokoh masyarakat, dan seluruh unsur yang ada,” tegasnya.
Menurut Dian, ukuran keberhasilan sebuah kelurahan tidak semata-mata dilihat dari pembangunan fisik. Lebih dari itu, kekompakan warga, kreativitas, kepedulian sosial, serta kemampuan masyarakat menyelesaikan persoalan secara bersama-sama menjadi kekuatan penting dalam membangun wilayah.
Ia berharap proses verifikasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan inovasi di Kelurahan Jatiasih.
Dian juga menekankan agar semangat yang muncul dalam momentum lomba tidak berhenti setelah proses penilaian selesai.
“Semoga ini bukan sekadar untuk mengikuti kompetisi, melainkan menjadi gerakan bersama yang terus berjalan dan manfaatnya dirasakan warga dalam jangka panjang,” pungkasnya. (Red)
