Jakarta, wartapilar.com – Kekacauan penerbangan melanda Inggris setelah gangguan teknis pada sistem pengendali lalu lintas udara milik National Air Traffic Services (NATS) memicu gelombang pembatalan dan penundaan penerbangan hingga memasuki hari kedua.
Situasi tersebut membuat Chief Executive Officer (CEO) NATS Martin Rolfe dipanggil Menteri Transportasi Inggris Heidi Alexander untuk memberikan penjelasan mengenai penyebab gangguan sekaligus langkah pemulihan sistem.
Gangguan yang terjadi sejak Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 13.00 waktu setempat itu berdampak luas terhadap operasional penerbangan di sejumlah bandara utama Inggris, termasuk Heathrow, Gatwick, Manchester, dan Stansted.
Berdasarkan data FlightRadar24, sekitar 1.300 penerbangan dari dan menuju bandara-bandara Inggris dibatalkan pada Selasa. Memasuki Rabu (9/9/2026), pembatalan kembali terjadi sehingga secara keseluruhan jumlah penerbangan yang terdampak terus bertambah. Laporan terbaru menyebut lebih dari 1.900 penerbangan telah dibatalkan dalam dua hari gangguan tersebut.
Puluhan hingga ratusan ribu penumpang ikut merasakan dampaknya. Sejumlah pesawat dan kru bahkan berada di lokasi yang tidak sesuai dengan jadwal operasional akibat kekacauan sebelumnya. Kondisi tersebut membuat maskapai harus melakukan penataan ulang armada dan kru, sehingga efek domino diperkirakan masih berlangsung meski sistem NATS telah diperbaiki.
Di Bandara Heathrow, salah satu pusat penerbangan tersibuk di Inggris, FlightRadar mencatat 246 penerbangan dibatalkan hingga pukul 06.00 waktu setempat pada Rabu. Sementara di Gatwick tercatat 33 pembatalan pada waktu yang sama.
Heathrow dan Gatwick kemudian meminta calon penumpang memeriksa status penerbangan langsung kepada maskapai sebelum berangkat ke bandara. Pihak bandara memperingatkan bahwa jadwal penerbangan masih dapat berubah karena maskapai tengah memulihkan posisi pesawat dan kru yang terdampak gangguan.
Bos NATS Dipanggil Menteri
Martin Rolfe dijadwalkan bertemu dengan Menteri Transportasi Heidi Alexander pada Rabu. Pertemuan tersebut berlangsung ketika pemerintah Inggris menghadapi tekanan untuk menjelaskan bagaimana gangguan sistem pengendalian lalu lintas udara bisa kembali terjadi.
Alexander juga dijadwalkan memberikan keterangan kepada anggota parlemen Inggris dalam agenda pembacaan kedua Rancangan Undang-Undang Penerbangan Sipil.
Tekanan terhadap NATS semakin kuat karena insiden kali ini bukan merupakan gangguan besar pertama yang dialami sistem pengendalian lalu lintas udara Inggris dalam beberapa tahun terakhir.
NATS menyebut gangguan kali ini berasal dari sistem pemrosesan data penerbangan. Menurut perusahaan, masalah tersebut berbeda dengan gangguan yang pernah terjadi pada 2023 dan 2025.
NATS mengonfirmasi bahwa gangguan tidak disebabkan serangan siber. Rolfe mengatakan penyelidikan menyeluruh akan dilakukan untuk mengetahui secara pasti penyebab kegagalan sistem tersebut.
“Kami akan melakukan penyelidikan yang sangat menyeluruh dan lengkap,” ujar Rolfe.
Ia menegaskan, NATS saat ini telah mengesampingkan kemungkinan serangan siber sebagai penyebab gangguan.
Rolfe Hadapi Desakan Mundur
Gangguan berulang tersebut membuat posisi Rolfe sebagai pimpinan NATS ikut menjadi sorotan.
Sejumlah pihak di industri penerbangan bahkan mulai mendesak agar Rolfe mempertimbangkan pengunduran dirinya. Wizz Air UK menilai kegagalan sistem yang terjadi berulang kali menunjukkan adanya persoalan serius terkait ketahanan infrastruktur pengendalian lalu lintas udara Inggris.
Ryanair juga kembali melontarkan kritik keras terhadap kepemimpinan NATS. Maskapai tersebut menilai penumpang dan industri penerbangan tidak seharusnya terus menanggung dampak dari gangguan teknis yang berulang.
Namun, ketika ditanya apakah dirinya mempertimbangkan untuk mundur dari jabatan, Rolfe menegaskan bahwa dirinya bertanggung jawab penuh atas situasi tersebut.
“Saya adalah CEO dari penyedia infrastruktur krusial, jadi sudah menjadi tugas saya untuk bertanggung jawab,” kata Rolfe, seperti dilansir The Guardian, Rabu (9/9/2026).
Menurut dia, prioritas utama saat ini bukan persoalan jabatan, melainkan memastikan keselamatan penerbangan dan mempercepat pemulihan jaringan.
“Fokus saya saat ini sepenuhnya tertuju pada cara menyelesaikan masalah ini, memulihkan situasi ke kondisi normal, serta membantu maskapai, konsumen bandara, dan para penumpang,” ujarnya.
Gangguan Belum Sepenuhnya Pulih
NATS sebelumnya menyatakan sistem telah berhasil diperbaiki sekitar empat jam setelah gangguan pertama kali terdeteksi. Namun, perbaikan tersebut tidak serta-merta membuat jaringan penerbangan kembali normal.
NATS menyebut proses pemulihan sangat kompleks karena gangguan telah mengacaukan seluruh jaringan penerbangan.
“Ini merupakan proses pemulihan yang sangat kompleks dan memicu kendala bagi seluruh jaringan penerbangan, sehingga butuh waktu untuk benar-benar pulih,” kata NATS.
Gangguan tersebut terutama memengaruhi penerbangan yang hendak lepas landas dari sejumlah bandara terbesar Inggris. Heathrow, Gatwick, Manchester, dan Stansted termasuk yang mengalami dampak signifikan.
Dampaknya bahkan menjalar ke penerbangan di luar Inggris. Sejumlah penerbangan internasional mengalami keterlambatan dan pengalihan karena jadwal penerbangan di Inggris mengalami kekacauan.
Maskapai pun harus menghadapi persoalan lanjutan berupa posisi pesawat dan kru yang tidak sesuai dengan jadwal. Kondisi ini membuat efek domino gangguan diperkirakan masih akan terasa selama beberapa waktu ke depan.
Krisis Ketiga dalam Beberapa Tahun
Insiden terbaru ini kembali memunculkan pertanyaan mengenai keandalan infrastruktur pengendalian lalu lintas udara Inggris.
NATS merupakan penyedia layanan navigasi udara yang mengelola layanan pengendalian lalu lintas udara untuk 15 bandara di Inggris. Gangguan kali ini disebut sebagai kegagalan besar ketiga dalam kurun waktu lebih dari tiga tahun.
Pada 2023, gangguan sistem NATS juga sempat menyebabkan kekacauan penerbangan secara luas dan menimbulkan kerugian besar bagi industri penerbangan. Gangguan teknis lainnya kemudian kembali terjadi pada tahun berikutnya.
Karena itu, insiden terbaru tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknis semata. Pemerintah Inggris kini menghadapi tuntutan untuk memastikan sistem pengendalian lalu lintas udara memiliki tingkat ketahanan yang memadai untuk menghadapi gangguan tanpa menimbulkan efek domino terhadap ratusan ribu penumpang.
Dengan pemulihan yang masih berlangsung, perhatian kini tertuju pada hasil pertemuan Martin Rolfe dengan Heidi Alexander serta hasil investigasi NATS. Pemerintah Inggris dituntut memastikan gangguan serupa tidak kembali mengulang kekacauan yang sama di masa mendatang. (Red)
