Jakarta, wartapilar.com — Wajah kawasan Blok M, Jakarta Selatan, bakal kembali berubah. PT MRT Jakarta tengah menyiapkan rencana revitalisasi kawasan yang tak lagi sekadar berkutat pada penataan ruang bawah tanah dan permukaan, tetapi mulai diarahkan ke pengembangan vertikal dengan potensi fungsi perkantoran, hunian, hingga apartemen.
Rencana tersebut menjadi bagian dari strategi MRT Jakarta mendorong Blok M sebagai kawasan perkotaan yang lebih terintegrasi, produktif, dan memiliki daya tarik lintas generasi. Pembangunan ditargetkan mulai 2027 dan diproyeksikan rampung pada 2028 atau awal 2029.
Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo, mengatakan konsep revitalisasi saat ini masih dalam tahap pembahasan.
“Blok M ini kan sekarang underground sama ground level. Nah, kita rencananya memang akan ekspansi ke atas, secara vertikal. Nanti di atas itu bisa ada office, bisa ada residential, apartment dan sebagainya,” kata Samuel dalam rangkaian MRT Jakarta Fellowship Program 2026, Rabu (9/9/2026).
Tak Hanya Mengandalkan APBD
Dari sisi pembiayaan, MRT Jakarta mulai membuka ruang lebih besar bagi keterlibatan sektor swasta. Investor dan mitra strategis berpeluang dilibatkan dalam pengembangan kawasan, sehingga pembiayaan revitalisasi tidak sepenuhnya bertumpu pada anggaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Samuel menyebut anggaran MRT Jakarta masih menjadi salah satu opsi pembiayaan. Namun, skema kemitraan dengan investor juga tengah dibuka.
“Ini masih planning ya, kemungkinan besar dari MRT budget. Tapi kita juga berharap nanti ada private partner, ada investor yang bisa ikut mengembangkan, jadi tidak semuanya harus dari APBD DKI,” ujarnya.
Skema tersebut sekaligus menunjukkan bahwa revitalisasi Blok M tidak hanya dipandang sebagai proyek penataan kawasan, tetapi juga memiliki potensi menjadi pengembangan properti dan pusat aktivitas ekonomi baru di Jakarta Selatan.
Terminal Transjakarta Ikut Dirombak
Revitalisasi juga akan menyentuh simpul transportasi publik, termasuk Terminal Transjakarta. Penataan terminal diarahkan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus memperbaiki kenyamanan penumpang.
Salah satu perubahan yang disiapkan adalah penambahan jalur bus serta area tunggu yang lebih terlindungi dari kondisi cuaca.
“Nanti lebih banyak bus lane, waiting area-nya juga akan lebih terlindung dari panas dan hujan,” kata Samuel.
Dengan demikian, pengembangan Blok M diproyeksikan tidak berdiri sendiri. Kawasan tersebut akan diarahkan menjadi simpul integrasi antara transportasi publik, ruang komersial, perkantoran, hunian, serta ruang publik.
Blok M Tak Boleh Kehilangan ‘Soul’
Namun, MRT Jakarta menegaskan revitalisasi tidak semata-mata mengejar pembangunan fisik. Konsep placemaking juga menjadi bagian penting dalam rencana tersebut.
Konsep ini menempatkan ruang kota bukan hanya sebagai tempat berlalu-lalang, tetapi sebagai ruang yang memiliki karakter, aktivitas, identitas, sekaligus menjadi tempat masyarakat berkumpul dan berinteraksi.
Samuel mengatakan karakter khas Blok M akan tetap dipertahankan, terutama identitasnya sebagai salah satu kawasan yang lekat dengan budaya anak muda Jakarta.
“Jadi kita memang mencoba membuat Blok M itu ada soul-nya. Kita ingin ada culture-nya, ada urban youth culture, tapi juga ada nostalgia. Jadi yang muda bisa menikmati, yang tua juga bisa menikmati,” tuturnya.
Artinya, revitalisasi tidak diarahkan untuk menghapus identitas lama Blok M dan menggantinya dengan kawasan modern yang seragam. Sebaliknya, unsur budaya anak muda dan nostalgia masa lalu diharapkan tetap menjadi bagian dari wajah baru kawasan tersebut.
50 Komunitas Jadi Penggerak Aktivitas
Upaya menghidupkan kawasan melalui aktivitas masyarakat juga terus dilakukan. Hingga September 2026, MRT Jakarta tercatat telah berkolaborasi dengan lebih dari 50 komunitas di kawasan Blok M.
Komunitas tersebut berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari hobi, olahraga, kegiatan sosial hingga aktivitas keagamaan.
Kehadiran komunitas menjadi salah satu indikator bahwa transformasi Blok M tidak hanya mengandalkan pembangunan gedung dan infrastruktur. Aktivitas masyarakat menjadi elemen penting untuk memastikan kawasan tetap hidup setelah pembangunan fisik selesai.
Taman Literasi Jadi Titik Balik
Salah satu ruang publik yang dinilai berperan besar dalam mengubah citra Blok M adalah Taman Literasi Martha Tiahahu.
Ruang publik tersebut disebut menjadi salah satu titik awal perubahan wajah kawasan. Dari kawasan yang sebelumnya kerap dilekatkan dengan citra “remang-remang”, Blok M mulai memiliki ruang publik yang aktif dan dapat digunakan masyarakat sepanjang hari.
“Taman Literasi itu menurut saya starting point dari success-nya Blok M. Karena dulu kan image-nya Blok M itu remang-remang, sekarang Taman Literasi itu 24 jam, orang bisa datang, bisa baca, bisa berkegiatan,” ujar Samuel.
Ke depan, tantangan terbesar revitalisasi Blok M bukan hanya bagaimana membangun gedung baru atau menambah kapasitas transportasi. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kawasan tersebut tetap memiliki identitas dan menjadi ruang publik yang benar-benar hidup.
Jika rencana berjalan sesuai target, mulai 2027 Blok M akan memasuki babak baru: dari kawasan transit dan pusat aktivitas komersial menjadi kawasan terpadu yang berkembang secara vertikal, dengan transportasi publik sebagai tulang punggungnya. (Red)
