Bangkok, wartapilar.com – Banjir yang melanda Bangkok, Thailand, memaksa Pemerintah Metropolitan Bangkok (BMA) mengambil langkah darurat. Seluruh sekolah negeri yang berada di bawah kewenangan BMA akan ditutup sementara pada Senin (28/9/2026) demi menjaga keselamatan siswa, orang tua, guru, dan tenaga kependidikan.
Keputusan tersebut diumumkan Departemen Pendidikan BMA pada Sabtu (26/9/2026), di tengah hujan lebat yang terus mengguyur ibu kota Thailand. Kondisi tersebut memicu banjir di sejumlah wilayah sekaligus menyebabkan gangguan lalu lintas yang berdampak pada aktivitas warga.
Seperti dilaporkan The Nation, hujan deras tidak hanya menghambat mobilitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap keselamatan warga serta menimbulkan kerusakan pada sejumlah properti pribadi maupun fasilitas pemerintah.
Situasi semakin serius setelah Direktorat Pencegahan dan Mitigasi Bencana BMA pada Jumat (25/9/2026) menetapkan seluruh 50 distrik di Bangkok sebagai daerah bencana banjir.
Namun, penetapan tersebut tidak berarti seluruh wilayah dari 50 distrik itu terendam air. Status bencana diberlakukan sebagai langkah administratif darurat untuk mempercepat penanganan di seluruh wilayah ibu kota.
Melalui keputusan Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt, status tersebut memungkinkan BMA dan lembaga penanggulangan bencana mengerahkan anggaran darurat, logistik, bantuan, hingga sistem pompa air secara lebih cepat tanpa terhambat prosedur birokrasi.
Sekolah Diminta Periksa Keamanan Bangunan
Penutupan sekolah dilakukan bukan semata-mata karena kondisi banjir, tetapi juga untuk memberikan waktu kepada masing-masing sekolah memeriksa keamanan bangunan dan fasilitas pendidikan yang berpotensi terdampak.
Pemeriksaan tersebut mencakup kondisi fasilitas sekolah yang kemungkinan mengalami kerusakan akibat hujan dan banjir. Sekolah juga diminta mempersiapkan kembali kegiatan belajar mengajar serta pelaksanaan ujian semester pertama tahun ajaran 2026.
Aspek keselamatan perjalanan siswa turut menjadi pertimbangan utama. Dengan sejumlah ruas jalan terdampak banjir dan lalu lintas terganggu, pemerintah kota ingin memastikan siswa tidak menghadapi risiko ketika harus berangkat maupun pulang dari sekolah.
Pihak sekolah diminta segera menyampaikan informasi penutupan kepada orang tua dan wali murid. Sekolah juga harus mengatur jadwal pengganti untuk kegiatan pembelajaran yang terdampak.
Warga Mulai Borong Kebutuhan Pokok
Dampak banjir tidak hanya terlihat dari terganggunya aktivitas sekolah dan transportasi. Kekhawatiran terhadap perkembangan situasi juga mulai memengaruhi perilaku masyarakat.
Di tengah kondisi yang belum sepenuhnya dapat diprediksi, warga Bangkok mulai mendatangi supermarket, minimarket, dan hipermarket untuk membeli kebutuhan makanan dalam jumlah lebih besar dari biasanya.
Inquirer melaporkan, sejumlah pelanggan memborong makanan siap saji, bahan makanan segar dan kering, minuman, hingga kebutuhan pokok lainnya. Produk seperti susu segar, minuman yoghurt, minuman ringan, roti dan makanan ringan turut banyak dibeli warga.
Gerai-gerai 7-Eleven juga mengalami lonjakan pembeli. Bahkan, sejumlah rak dilaporkan sempat kosong akibat tingginya permintaan.
Seorang pegawai salah satu gerai 7-Eleven mengatakan jumlah pelanggan meningkat tajam sejak Jumat (25/9) malam. Kondisi itu membuat pihak gerai harus melakukan pemesanan tambahan untuk menjaga ketersediaan barang.
“Sebagian besar orang membeli makanan siap saji, makanan instan, minuman, telur dan beras,” ujar pegawai tersebut.
Menurutnya, salah satu alasan warga melakukan pembelian dalam jumlah besar adalah kekhawatiran terhadap banjir dan kemungkinan terganggunya pasokan makanan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa dampak banjir Bangkok mulai merembet dari persoalan genangan dan transportasi ke aktivitas sosial masyarakat.
Dengan seluruh 50 distrik telah ditetapkan sebagai wilayah bencana secara administratif, pemerintah kota kini menghadapi tantangan untuk memastikan penanganan banjir berjalan cepat, sekaligus menjaga layanan publik dan kebutuhan dasar warga tetap tersedia. (Red)
