Lampung Timur – Bertahun-tahun menanti perbaikan infrastruktur jalan, warga Desa Sripendowo, Kecamatan Bandar Sribhawono, Kabupaten Lampung Timur, akhirnya mengambil langkah mandiri. Dengan mengandalkan dana swadaya masyarakat, warga bergotong royong membangun jalan lingkungan yang selama ini dinantikan perbaikannya.
Gerakan yang bermula dari warga Dusun 6 tersebut kini meluas ke sejumlah wilayah lain. Sejak Februari 2026, masyarakat bahu-membahu membangun jalan gang secara mandiri. Pengerjaan kembali dilanjutkan pada Agustus 2026, dengan semangat gotong royong yang tetap terjaga di tengah keterbatasan anggaran desa.
Hingga Oktober 2026, pembangunan jalan lingkungan itu dilaporkan telah mencapai sekitar 8 kilometer dari target keseluruhan 11 kilometer. Capaian tersebut menunjukkan besarnya keterlibatan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur di lingkungan mereka.
Namun, di balik semangat kebersamaan itu, terdapat persoalan mendasar yang patut menjadi perhatian, yakni besarnya kebutuhan pembangunan jalan yang belum sepenuhnya dapat ditopang oleh anggaran desa.
Kepala Desa Sripendowo, Purnawirawan TNI Suyoto, mengatakan pembangunan secara swadaya menjadi salah satu langkah yang ditempuh masyarakat untuk mempercepat perbaikan jalan di tengah keterbatasan Dana Desa.
“Dengan keterbatasan Dana Desa, kami mengucapkan terima kasih atas kekompakan warga dalam membangun desa secara swadaya,” ujar Suyoto, Selasa (13/10/2026).
Biaya Puluhan Juta per Gang, Warga Patungan Sesuai Kemampuan
Dalam pelaksanaannya, masyarakat menyumbangkan dana sesuai kemampuan ekonomi masing-masing keluarga. Pemerintah desa, kata Suyoto, tidak menetapkan kewajiban atau memaksakan kontribusi kepada warga, terutama keluarga yang secara ekonomi tidak mampu.
“Selaku pemerintahan desa, kami tidak memaksakan itu karena anggarannya besar. Takutnya ada masyarakat yang tidak mampu, jadi kami tidak memaksa,” ungkapnya.
Pola swadaya tersebut menjadi bentuk partisipasi masyarakat dalam pembangunan lingkungan. Warga yang memiliki kemampuan berkontribusi sesuai kesanggupan, sementara pembangunan tetap diupayakan berjalan berdasarkan semangat kebersamaan.
Meski demikian, besarnya biaya yang diperlukan memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur jalan lingkungan membutuhkan dukungan pendanaan yang tidak sedikit.
Suyoto menjelaskan, setiap gang memiliki panjang sekitar 100 meter dengan kebutuhan biaya pembangunan kurang lebih Rp24 juta.
Dengan asumsi biaya tersebut berlaku merata, pembangunan 80 gang dengan total panjang sekitar 8 kilometer diperkirakan membutuhkan dana Rp1,92 miliar. Sementara itu, penyelesaian target 110 gang sepanjang sekitar 11 kilometer diproyeksikan menelan biaya hingga Rp2,64 miliar.
“Untuk menyelesaikan pembangunan 110 gang sesuai rencana, total dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai Rp2,64 miliar,” bebernya.
Angka tersebut menggambarkan besarnya kebutuhan pembiayaan untuk memenuhi akses jalan lingkungan bagi masyarakat Desa Sripendowo. Perhitungan itu merupakan estimasi berdasarkan biaya rata-rata per gang, bukan laporan audit atas dana yang telah terkumpul maupun yang sudah dibelanjakan.
Gotong Royong Menjadi Tumpuan Pembangunan
Besarnya kebutuhan anggaran tidak menyurutkan semangat masyarakat. Gerakan yang awalnya tumbuh di Dusun 6 kini menginspirasi warga di wilayah lain untuk ikut membangun akses jalan di lingkungan masing-masing.
Bagi masyarakat, pembangunan jalan bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan upaya bersama untuk meningkatkan aksesibilitas dan mendukung aktivitas sehari-hari warga.
Suyoto menyebut antusiasme masyarakat masih terjaga sejak kegiatan tersebut dimulai. Kekompakan warga menjadi faktor penting yang membuat pembangunan terus berlanjut meski mengandalkan dana swadaya.
“Masyarakat tetap semangat, kompak. Antusias sekali membangun desa, membangun dusun dengan anggaran swadaya murni dari masyarakat,” pungkasnya.
Gerakan warga Sripendowo memperlihatkan bahwa semangat gotong royong masih menjadi kekuatan penting dalam pembangunan desa. Di tengah keterbatasan pembiayaan, masyarakat memilih bergerak bersama agar kebutuhan infrastruktur lingkungan dapat dipenuhi secara bertahap.
Kendati demikian, capaian pembangunan secara swadaya tersebut juga menjadi pengingat bahwa pemerataan infrastruktur memerlukan perencanaan dan dukungan anggaran yang berkelanjutan. Transparansi penggunaan dana, pemetaan kebutuhan prioritas, serta koordinasi dengan pemerintah di tingkat kabupaten maupun provinsi dapat menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan jalan lingkungan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Dengan target 11 kilometer dan capaian sekitar 8 kilometer hingga Oktober 2026, warga Sripendowo masih memiliki pekerjaan untuk menuntaskan sisa pembangunan. Semangat gotong royong telah menjadi modal sosial mereka, sementara keberlanjutan pembangunan tetap membutuhkan perencanaan pendanaan yang realistis agar beban masyarakat tidak semakin berat. (Red)
